Renungan Pelita P/KB GMIM, 26 Juni – 2 Juli 2016


KUALITAS HIDUP ORANG KRISTEN
Filipi 4 : 2 – 9

Pria Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Ada ungkapan – ungkapan mengatakan : “Hidup hanya sekali, janganlah sia-siakan”, “Mari kita bikin hidup lebih hidup”, “Hidup bukan hanya sekedar hidup, hidup menjadi hidup, jika hidup ini berguna bagi orang lain” atau “ Jadilah berkat, itu panggilan hidupmu”. Rangkaian kata tersebut mengandung makna tentang kualitas hidup manusia. Bagaimana menjadikan hidup ini berdayaguna, menjadikan hidup ini bermanfaat bukan hanya bagi diri sendiri, keluarga sendiri tapi juga  bagi orang lain. Itulah kedalaman makna hidup kita, bahwa hidup kita bukan mengarah hanya kepada diri sendiri saja, melainkan juga pada sesuatu di luar dirinya. Arti hidup bukan diukur dari berapa panjang umur, tapi terlebih bagaimana seseorang menjalani hidup ini, bagaimana  mengisi hidup ini. Perlu direnungkan apa visi, misi atau obsesi hidup kita. Perenungan tentang arti hidup yang lebih punya makna, mengenai hidup yang berkualitas maka kita diajak belajar dari kesaksian pelayanan Rasul Paulus di jemaat Filipi.
Bacaan kita diawali dengan kalimat: “Euodia kunasihati dan Sintikhe kunasihati”. Siapakah kedua orang itu? Apa yang telah mereka lakukan sehingga Paulus harus menasihati mereka?
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Euodia dan Sintikhe adalah dua perempuan Kristen yang turut dalam perjuangan pelayanan  rasul Paulus, kemungkinan mereka adalah diaken. Keduanya memberi diri dalam tugas pekabaran Injil, tapi rupanya mereka tidak lagi sejalan, tidak lagi sehati sepikir, terjadi pertengkaran, perselisihan di antara mereka. Memang tidak dijelaskan apa alasan yang membuat perselisihan dan pertengkaran  di antara mereka. Namun rasul Paulus merasa bertanggungjawab untuk memulihkan hubungan di antara mereka. Ia menasihatkan mereka agar hidup sehati sepikir dalam Tuhan. Bahkan rasul Paulus meminta teman sepelayanannya yaitu Sunsugos untuk turut mendamaikan mereka.
Selanjutnya dinasihati agar keduanya memiliki sukacita, yaitu sukacita dalam Tuhan. Sukacita dalam bahasa Yunani di sini adalah Khara, sukacita yang besar, sama seperti sukacita ketika adanya kelahiran anak.  Nah,  sukacita dalam Tuhan sebagai ciri khas orang Kristen bukan sekadar perasaan hati yang gembira, senang di saat-saat tertentu saja, namun suatu perasan berbahagia karena diberkati, dan itu teralami bukan hanya dalam  keadaan baik, sehat, kuat, beruntung, sukses, tapi segala keadaan. Jadi sukacita dalam Tuhan menyangkut kualitas hidup manusia.
Nasihat untuk bersukacita, dilanjutkan dengan nasihat untuk melakukan kebaikan. “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang”. Kebaikan hati harus menjadi sikap hidup, suatu kesaksian hidup orang percaya. Hal ini bukan bermaksud untuk menyombongkan diri supaya orang mengenal kita sebagai orang baik, sebagaimana ada ayat Firman Tuhan mengatakan, “Apa yang diberikan oleh tangan kananmu, janganlah diketahui oleh tangan kirimu”. Namun maksudnya di sini adalah bagaimana hidup orang percaya adalah hidup yang mengaplikasikan iman dalam perbuatan baik. Kebaikan adalah tindakan iman, suatu bentuk dari kesaksian hidup orang percaya, dan  bukan untuk menonjolkan diri, bukan untuk kepentingan tertentu, bukan untuk menarik hati orang, bukan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri, bukan kebaikan yang pura-pura saja, apalagi kebaikan yang diselubungi rencana jahat.
Bukankah di zaman sekarang banyak orang melakukan kebaikan hanya untuk tujuan tertentu yang tidak murni atau hanya di moment-moment tertentu untuk mendapatkan popularitas diri. Firman Tuhan menasihatkan bahwa kebaikan hati hendaknya dilakukan sebagai wujud iman dan ketaatan kepada Tuhan. Semua orang dapat saja berbuat baik, berbuat benar, berbuat hal yang terpuji (band ayat 8), tapi orang Kristen hendaknya melakukan semua kebaikan didasari iman kepada Yesus Kristus Tuhan dan Juruselamat. Sambil mencontohi ketaatan dan kesetiaan orang percaya sebagaimana yang diteladankan Rasul Paulus sehingga ia mengatakan,”... apa yang kamu pelajari dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang kamu lihat padaku, lakukanlah semuanya itu.” Dalam keyakinan iman bahwa Allah sumber kasih karunia dan damai sejahtra akan menyatakan berkat penyertaan-Nya.
Pria kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Apa yang bisa kita renungkan dari perikop ini dalam hubungan dengan tema “Kualitas hidup orang Kristen”,  bahwa hidup kita tidak sekadar sebuah perjalanan runitas tapi semakin diberi isi, di mana nilai-nilai hidup kristiani teraplikasi dalam tugas kerja, mata pencaharian, dalam pelayanan dan hidup setiap hari. Dari nas Firman yang kita renungkan, ada beberapa hal menjadi catatan kita untuk hidup berkualitas:
Perlunya saling menasihati.
Hidup sehati sepikir dengan membangun kerja sama yang positif. Perbedaan  hendaknya disikapi secara arif sehingga tidak menimbulkan konflik yang  merusak tatanan persaudaraan yang rukun dan damai.
Berperanlah sebagai mediator yang memediasi perselisihan, konflik  seperti Sunsugos,  bukannya menjadi pemicu konflik atau pemecah belah
Taburlah benih kebaikan. Ingat bahwa orang yang berbuat kebaikan tidak akan ditinggalkan oleh kebaikannya. Kebaikan yang murni tidak pernah sia-sia.
Gumulilah hidup, bermohonlah dalam doa dengan penuh ucapan syukur sebab dalam pengalaman hidup ada banyak hal yang secara logika dan akal manusia sangat sulit tapi dengan pertolongan Tuhan diberi berkat kemudahan.
Pikirkanlah segala sesuatu yang dikehendaki Tuhan, maka damai sejahtera-Nya akan memenuhi hati dan pikiranmu. Banyak hal yang bermula dari pikiran,  kemudian terwujud dalam perkataan dan perbuatan. Pikiran yang benar akan mendatangkan kebenaran. Pikiran yang jahat akan mendatangkan kejahatan. Pikiran yang positif akan menghasilkan hal-hal  positif. Pikirkanlah hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.
Makna dari sebuah keteladanan sangat berharga. Paulus memberi keteladanan, ia dianjurkannya untuk berpola dari hidupnya yang Takut akan Tuhan, demikianlah kita jadi teladan yang baik dan benar sehingga Pria Kaum Bapa dengan lega dapat berkata, ikutilah teladanku, atau orang lain akan mengatakan ikutilah teladannya.
Dengan demikian, kualitas hidup Kristen adalah menyangkut hidup beriman yang teraplikasi melalui prestasi, kinerja, gaya hidup sehat, dan  hubungan baik dengan sesama. Terpujilah Tuhan. Amin

Pertanyaan Untuk Diskusi:
Apa yang dapat kita pahami tentang Kualitas Hidup sesuai nasihat rasul Paulus?
Sejauh mana kualitas hidup Kristen teralami dalam hidup kita?
Kendala apa yang menghambat terwujudnya kualitas hidup Kristen?

Related

Informasi Pelayanan 6454623643550949256

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item