Renungan Pelita P/KB GMIM, 22 – 28 Mei 2016

KESATUAN DALAM KEANEKARAGAMAN
Yohanes 17 : 1 – 26

Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan.
Sebagai warga gereja Masehi Injili di Minahasa, kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus Kepala Gereja kita, karena berkat-berkat-Nya tak pernah berkesudahan bahkan selalu baru setiap pagi. Salah satu kebesaran kasih dan kuasa-Nya adalah, bahwa kita warga gereja terdiri dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, politik, pendidikan, karakter dan lain-lain sebagainya yang mendiami daerah pesisir, perkotaan, pedesaan, pegunungan dan kepulauan. Semua ini adalah kekayaan yang tak terhingga nilainya. Jika semua kekayaan dan anugerah Tuhan ini terolah dengan baik maka akan membawa gereja kita terus bertumbuh dan berbuah dalam menjawab tugas tanggung jawab bersekutu, bersaksi dan melayani untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.
Namun demikian, hal yang sering digumuli adalah, sulitnya tercipta rasa persekutuan, kesaksian dan pelayanan yang sehati, sepikir dan sepenanggungan. Hal ini nampak dengan adanya berbagai persoalan yang muncul di tengah keluarga, jemaat dan masyarakat. Di tengah keluarga, adanya perselisihan antara suami dan  isteri, orang tua dan anak, kakak-beradik; antar pelayan khusus, antar anggota jemaat dan antar tetangga; antar kampung, antar suku bahkan agama. Semua ini dapat merupakan ancaman-ancaman bagi perpecahan keluarga, jemaat, masyarakat dan bangsa.
Harus diakui, ada yang mengatakan bahwa, manusia secara alamiah cenderung pada perpecahan dari pada menjadi satu. Inilah pula realita yang dihadapi oleh Yesus terhadap murid-murid-Nya, ketika sebentar lagi Ia kan mengakhiri pelayanan-Nya di dunia dan akan meninggalkan mereka. Para murid terdiri dari orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang dan karakter sehingga rentan terjadi perpecahan.
Dalam doa Yesus sebagaimana pembacaan kita saat ini, Yesus bukan hanya berdoa tentang diri-Nya. Yesus berdoa untuk diri-Nya, supaya Ia yang telah memuliakan Bapa melalui pekerjaan-Nya di bumi,  dimuliakan Bapa dengan kemuliaan yang dimiliki-Nya sebelum dunia ada; supaya kuasa yang diterima dari Bapa-Nya, akan diberikan-Nya dalam bentuk hidup kekal bagi  orang percaya yang mengenal Bapa, yang mengutus Yesus. Demikian pun  Ia mendoakan para murid-Nya yang telah menerima firman dan memuliakan Dia, sebagai milik Bapa  yang telah diberikan  kepada-Nya. Yesus mendoakan para murid yang  telah dipelihara dan telah dijaga-Nya,   dipelihara Bapa ketika berada dalam dunia yang jahat dan membenci mereka, dan supaya  dikuduskan dalam kebenaran dan supaya mereka menjadi satu sama seperti Yesus dan Bapa adalah satu. Selanjutnya Yesus mendoakan orang yang menjadi percaya karena pemberitaan para murid, supaya menjadi satu dalam persekutuan dengan-Nya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan.
Doa Yesus untuk terjadinya kesatuan di antara para murid dan orang-orang yang menjadi percaya karena pemberitaan mereka untuk menjadi satu dengan Yesus dan Bapa  di Sorga, bukanlah kesatuan lahiriah dan bukanlah pemerintahan atau organisasi,  tetapi  kesatuan persekutuan dengan yang lainnya, yang terus menerus tanpa batas,  sama seperti   kesatuan antara Yesus dan Bapa. Kesatuan orang percaya harus mencerminkan kesatuan antara Yesus dan Bapa, dan hal ini dapat dipahami dari kebenaran Firman-Nya sehingga dunia tahu bahwa orang-orang percaya kepada Kristus dikasihi Bapa yang mengutus Yesus dalam dunia.
Sebagai warga gereja, dan sebagai Pria/Kaum Bapa GMIM, mari kita menjadi pendoa-pendoa syafaat bagi terbentuknya kesatuan di antara kita yang datang dari berbagai perbedaan. Dan kita tahu bersama bahwa kesatuan ini hanya bisa terjadi kalau kita terlebih dahulu bersatu dengan Yesus. Jadi kesatuan tidak mungkin terwujud tanpa adanya kesatuan dengan Yesus dan Bapa. Jadi kalau ada perpecahan di antara kita, ini tandanya kita belum memiliki kualitas rohani yang satu dengan Yesus. Kita berdoa untuk kesatuan dalam persekutuan dengan sesama, menjadi tanda dan wujud keterikatan yang erat kesatuan kita dengan Bapa di sorga.
Kita dapat pahami pula, jika kita hidup dalam kesatuan maka Yesus dan Bapa yang adalah satu, akan  tinggal di dalam kita. Sebaliknya jika sebagai orang Kristen tidak hidup dalam kesatuan, bukan hanya sebagai tanda, tidak adanya kesatuan dengan Tuhan, tetapi kita juga akan dilihat sebagai orang-orang yang tidak memuliakan Tuhan dan gampang sekali jatuh ke dalam perseteruan hingga perpecahan.
Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan.
Sebagai Pria/ Kaum Bapa Gereja, mari kita wujudkan doa Yesus untuk kita semua. Salah satu cara untuk hidup bersatu dalam kepelbagaian, mulailah hidup dalam doa, membaca Firman, tinggallah dalam Yesus dan milikilah keyakinan bahwa di mana Yesus berada,  yakni di sorga, di sana pun kita berada. Kita yakin pemeliharaan Bapa di dalam Yesus terus menjadi bagian dalam dunia yang penuh pergumulan ini, sampai berada di dalam sorga nanti. Selamat hidup dalam kepelbagaian,  dalam kesatuan di dalam Yesus dan selamat menikmati berbagai berkat yang disiapkan-Nya untuk kita semua. Terpujilah nama Tuhan. Amin.

Pertanyaan untuk diskusi:
Mengapa dan apa tujuan Yesus mendoakan murid-murid-Nya supaya mereka hidup dalam kesatuan?
Bagaimana caranya mewujudkan doa Yesus bagi gereja kita, khususnya bagi  Pria/Kaum Bapa yang hidup dalam pelbagai keadaan dan keanekaragaman?
Sebutkan dan jelaskan hal-hal potensi yang sering mengancam persekutuan dan kesatuan dalam keberagaman, dan bagaimana menyikapi sekaligus mengatasinya?

Related

Renungan 7359071638906143151

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item