Renungan Pelita P/KB GMIM, 1 – 7 MEI 2016

DIBERDAYAKAN BUKAN DIPERDAYAKAN
Kisah Para Rasul 3 : 1 – 10


Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Ada berbagai hal dalam hidup ini yang membuat orang harus meminta belas kasihan sesamanya. Mungkin hati nuraninya menolak tapi keadaan yang tidak berdaya membuatnya terpaksa harus menjalaninya. Seperti yang dialami oleh seorang laki-laki yang diceritakan di bacaan kita ini. Di Bait Allah ia menjalankan aktivitas sebagai peminta-minta (=pengemis). Setiap hari orang membantu mengusungnya, kelumpuhannya membuatnya tidak bisa mandiri. Ia diletakkan dekat pintu masuk Bait Allah dengan harapan orang-orang yang datang bersembayang atau beribadah di Bait Allah akan  berbelas kasih dan bersedekah. Tidak diceritakan apakah ia tidak memiliki keluarga sehingga  ia harus mengemis untuk menghidupi dirinya atau orang-orang di sekitarnya hanya membantu mengusungnya tapi tidak  menafkainya  atau mungkin ia memiliki keluarga karenanya merasa bertanggungjawab membiayai hidup keluarga walalu pun dengan meminta-minta. Kelumpuhannya membuatnya tidak berdaya. Itulah alasannya   menjadi pengemis karena ketidakberdayaan karena kelumpuhannya, tidak dapat berbuat apa-apa.
Saudaraku, mungkin pengemis ada di sekitar kita, ada yang karena kemiskinan atau cacat. Di kota-kota besar ada yang memanfaatkan para perempuan, para lansia, atau anak-anak. Ada yang menculik anak-anak atau bahkan tanpa nurani sengaja membuat  mereka cacat lalu dijadikan pengemis, setiap hari harus menyetor hasil mengemis kepada bos mereka.
Di bacaan kita dikisahkan, Petrus dan Yohanes rasul Tuhan memasuki Bait Allah. Seperti biasanya orang lumpuh itu menadahkan tangannya meminta sedekah, mengharapkan pemberian. Petrus meminta orang lumpuh melihat kepadanya dan iapun berkata, “emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang ‘ku punya kuberikan kepadamu. Demi nama Yesus Kristus orang Nazaret itu, berjalanlah”. Ada Kuasa yang dasyat dari Tuhan melalui para Rasul. Orang  lumpuh itupun berjalan, bergembira berlonjak ke sana ke mari. Apa yang dialaminya menjadi kesaksian hidup yang membuat orang tidak hanya berdecak kagum tapi terlebih bersukacita memuji memuliakan Tuhan.
Kesembuhan mengubah ketidakberdayaan seorang  lumpuh, yang tidak bisa mandiri, yang  menggantungkan hidupnya pada sedekah, belas kasihan orang, kini melalui kuasa Tuhan membuatnya berjalan, dibebaskan dari belenggu penderitaannya. Kesembuhan, memberdayakannya menjadi manusia yang mandiri, yang tidak hanya mengharapkan pengasihan orang yang setiap hari mengusungnya ke Bait Allah, tidak lagi menggantungkan hidupnya dari sedekah. Jika Petrus dan Yohanes hanya merogoh saku dan memberi sedekah maka hidup si lumpuh tetap jadi beban orang. Tapi kepedulian Petrus dan Yohanes  dengan menyatakan Kuasa Tuhan Yesus telah memberi kelegaan dan meluputkannya dari ketidakberdayaan.
Pria Kaum Bapa yang  diberkati Tuhan
Mungkin ada orang berada di posisi seperti laki-laki lumpuh yang setiap hari hanya bisa mengharapkan belas kasih  orang. Tidak bisa menghidupi diri, tidak bisa mandiri, mungkin karena sakit, miskin, tua, dan lain-lain, atau ada pula orang di posisi mengalami kelumpuhan, bukan  tidak dapat berjalan tapi mungkin kelumpuhan iman, moral, kelumpuhan hidup karena kemalasan, gaya hidup yang salah, menyalahgunakan kepercayaan atau kelumpuhan dalam usaha, pekerjaan, mata pencaharian, kelumpuhan dalam hubungan kekeluargaan dan hubungan dengan sesama.
Saudaraku, dalam kesulitan, kita  membutuhkan pertolongan. Kita  tak berdaya karena berbagai alasan yang mungkin hanya kita sendiri yang tahu, hilang semangat, letih-lesu,  putus asa. Bagaimanakah menyikapinya? Apakah kita akan pergi ke Bait Allah seperti si lumpuh itu sekalipun mungkin ia tidak bertujuan untuk beribadah tapi setidaknya dia berada di suasana orang-orang beribadah, sekalipun hanya ada dekat pintu masuk Bait Allah namun  ia  berada di lingkungan orang-orang penyembah Tuhan. Ini penting bagi kita. Dalam keterpurukan hidup, kesulitan, tak berdaya dan membutuhkan pertolongan, dimanakah kita akan pergi? Apakah ke club malam, ke Pub, ke tempat berjudi,  minum sampai mabuk, ke dukun, paranormal,  ke jalan lainnya yang tidak dalam lingkungan orang-orang yang mencari Tuhan, atau bekerja sama dengan kuasa kegelapan untuk mendapatkan solusi.
Sadarilah, itu bisa membahayakan kita, datanglah pada Tuhan, bergumul dengan-Nya pasti Tuhan akan mengutus,  entah siapapun dia yang akan membantu. Akan ada jalan keluar bagi orang yang terus berjuang, yang tidak mudah menyerah  yang mengandalkan Tuhan. Orang-orang di sekitar kita dapat saja membuat hidup kita makin terpuruk, tapi dengan Tuhan penuh jalan berkat.
Mungkin kita dalam posisi seperti Petrus dan Yohanes yang berperan mengubah hidup seseorang menjadi lebih berarti. Betapa indahnya hidup ini jika bisa menjadi berkat. Sekalipun bantuan, pertolongan kita kecil dan sederhana, bahkan kadangkala begitu mudah dilupakan, tidak dihargai orang tapi sesuatu yang baik yang menolong orang lain sesungguhnya adalah tindakan yang positif. Jadilah kita Pria Kaum Bapa yang bisa memberdayakan hidup kita, keluarga di manapun kita berada.  Jauhkanlah gaya hidup yang hanya mencari keuntungan pribadi apalagi sampai memperdaya orang lain. Seperti Petrus yang dapat mengubah hidup si lumpuh menjadi lebih berarti maka itulah panggilan hidup kita, memberdayakan diri kita, sesama kita agar hidup ini sungguh-sungguh jadi berkat. Amin

Pertanyaan untuk Diskusi
1.Apakah pendapat saudara tentang tema di atas menurut bagian Alkitab ini?
2. Apakah tindakan konkrit yang perlu dilakukan untuk memberdayakan diri, keluarga dan sesama?


Related

Renungan 2200677773093183303

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item