Renungan P/KB GMIM Pelita, 21 – 27 Februari 2016 (Minggu Sengsara II)

MENJADI TERANG SEKALIPUN MENDERITA
Yesaya 49 : 1 – 7


Pria/Kaum Bapa Yang dikasihi Yesus Kristus.
            Sebuah acara televisi swasta nasional pada saat pergantian tahun dari 2015 ke 2016, menampilkan tema: ”Cahaya Bagi Bangsa”. Dari beberapa orang yang diwawancara oleh wartawan televisi itu, ditampilkan pernyataan dari seorang bapak bernama ”Butet” aktor lawak (komedian) yang biasa berperan di acara ”Sentilan-Sentilun” tentang harapannya di tahun 2016. Meski dia seorang aktor komedian namun harapannya tidak berbeda dengan harapan dari setiap anak bangsa yang sungguh-sungguh merindukan agar setiap pemimpin bangsa termasuk semua kepemimpinan dalam masyarakat terus berkomitmen melaksanakan fungsinya dengan benar, meski sulit bahkan menderita.
Memanf disadari bahwa tidaklah mudah bagi setiap pemimpin atau pelayan masyarakat untuk mengatasi berbagai permasalahan yang sudah terbangun selama ini, sebab sudah menjadi bagaikan gelap-pekatnya malam, sehingga ”Cahaya Bagi Bangsa” menjadi suatu harapan besar.
Dari bacaan Alkitab ini, kita dituntun dengan tema perenungan: ”MENJADI TERANG SEKALIPUN MENDERITA”.  Peranan seorang hamba yang menjadi Terang Sekalipun Menderita. Peranan ini bukanlah sekedar seperti kembang-kembang api yang menerangi angkasa ketika menyambut datangnya Tahun Baru 2016 yang hanya bercahaya dalam semaraknya dalam waktu seketika, melainkan terus berkomitmen, sehingga harapan dari  semua anak bangsa yang dipimpin dan dilayani, dapat tercapai dalam selamat sejahtera, diliputi dengan kebahagiaan dan sukacita.
Saudaraku Yang dikasihi Yesus Kristus.
            Yesaya 49:1-7 menampilkan peranan nabi Yesaya yang adalah ”Hamba TUHAN sebagai Terang”. Jika kita mencermati sampai pasal 57 sesungguhnya berisi nubuatan tentang Hamba TUHAN yang akhirnya menunjuk kepada Yesus Kristus yang akan datang dan menderita bagi semua bangsa, yang dimulai dengan pemulihan  bangsa Israel untuk terbebas dari gelapnya belenggu dosa, sehingga keselamatan tanpa kecuali dinikmati oleh semua bangsa. Makanya pemanggilan nabi Yesaya yang penuh kuasa sejak dari kandungan dan namanya sudah disebut sejak dari perut ibunya dilukiskan sebagai panggilan kepada Yesus sebagai Mesias sebelum Ia dilahirkan dari perawan Maria (bnd.Luk.1:31-33). Nantinya kata-kata dari Mesias yang akan datang dengan kuasa-Nya namun penuh kasih melalui penderitaan-Nya, dilukiskan sebagai sebilah pedang tajam yang menusuk hati nurani para pendengar agar sadar dari perbuatan dosa yang mengecewakan hati Tuhan Allah.
Dan mereka yang tidak suka mendengar firman-Nya akan menerima hukuman yaitu tertembus dengan panah yang runcing. Namun Mesias yang menyatakan penghukuman dalam kuasa Allah bagi keselamatan yang sesungguhnya melalui penderitaan-Nya sama seperti nabi Yesaya yang bernubuat dalam penghukuman yang keras dari Allah akan terlindung dalam naungan Allah sama seperti tersembunyi dalam tabung panah-Nya. Hal itu juga menggambarkan betapa dosa semua bangsa bukan hanya Israel sudah mencapai puncaknya yaitu dalam belenggu gelapnya dosa. Dan kalaupun Allah mau menghukum manusia bukan karena Ia benci kepada manusia, melainkan karena kasih-Nya kepada umat manusia, sehingga Mesias kelak rela menderita sengsara untuk membebaskan manusia tanpa kecuali dari penghukuman dosa.
Pemahaman ini tidak saja menunjuk kepada monopoli keselamatan hanya untuk bangsa Israel saja, sebab tugas Hamba yang menyelamatkan melalui penderitaan ialah mengembalikan Yakub (yaitu Israel) kepada Allah (ay.5). Yesus Anak Allah yang menjadi Hamba mewujudkan Israel sejati, dan Dialah yang menggenapi segala sesuatu yang dituntut Allah dari bangsa Israel.
Diakui bahwa gelap-pekatnya dosa yang membelenggu kehidupan manusia dibarengi dengan kerja keras dalam usaha menyadarkan manusia, tidak jarang menyebabkan pertentangan dan permusuhan dari hamba dalam melaksanakan tugasnya, sehingga muncul kekecewaan.dan penderitaan. Demikian juga misi Sang Hamba Yesus Kristus. Kelihatannya Yesus gagal ketika Ia harus mengalami penderitaan yang amat berat bahkan mati di kayu salib. Namun  untuk semua penderitaan dan sengsara itu, maka nabi Yesaya bernubuat: ”maka aku dipermuliakan di mata TUHAN, dan Allahku menjadi kekuatanku, firman-Nya”  Itulah penghiburan sejati dari setiap hamba Tuhan yang rela menderita sengsara bagi keselamatan semua bangsa.
Meski nabi Yesaya melakukan usaha dan kerja keras bahkan mengalami kekecewaan dan penderitaan dalam mengembalikan Israel dengan suku-suku Yakub yang bertobat kepada Allah, tetapi Tuhan Allah menuntut lebih dari itu yaitu menjadi terang bagi bangsa-bangsa sampai Tuhan datang kembali. Itu berarti misi nabi Yesaya yang kemudian kenyataannya dalam peran Yesus Kristus adalah ”MENJADI TERANG SEKALIPUN MENDERITA”.
Betapa tidak. Meskipun Yesus Kristus dihina, dicaci dan dibenci, sehingga Ia mengalami penderitaan dan sengsara yang amat berat, namun Ia telah menjadi terang keselamatan bagi bangsa-bangsa yaitu terbebas dari gelap-pekatnya belenggu dosa. Hamba-hamba penguasa (pemimpin dan pelayan) maupun  raja-raja (pemimpin bangsa) yang tadinya menentang dan memusuhi, pada akhirnya berbalik mengakui kekuasaan-Nya, dan bangkit menghormati Dia.
Pria/Kaum Bapa Yang Dikasihi Yesus Kristus.
            Kita juga adalah pemimpin dalam keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat. Dan sebagai pemimpin, kita juga adalah sebagai pelayan atau hamba Tuhan dalam keluarga. Sebab kita telah berjanji saat peneguhan dan pemberkatan nikah untuk setia dan mengasihi istri kita termasuk anak-anak, bahkan berupaya mensejahterakan keluarga dalam berkat Tuhan bahkan menjadi berkat bagi orang lain. Fungsi dan peranan kita sebagai Pria/Kaum Bapa GMIM kemudian dapat disamakan dengan konsep sebagai imam, nabi dan raja dalam keluarga. Sebagai imam, kita berfungsi membangun kehidupan keluarga yang beriman. Sebagai nabi, kita harus mampu membaca tanda-tanda zaman ini yang semakin banyak menampilkan berbagai kejahatan. Sebagai raja, kita diartikan sebagai figur yang bekerja keras untuk mensejahterakan kehidupan keluarga yang diberkati dan menjadi berkat bagi sesama.
Tentu kerja keras dan upaya kita, tidak jarang menjadi beban, bahkan membuat kita menderita. Apalagi dikaitkan dengan berbagai kebutuhan hidup keluarga di tengah keadaan ekonomi dengan harga-harga yang semakin sulit dijangkau, sehingga boleh dikatakan kegelapan menudungi usaha dan kerja keras kita. Namun dalam kondisi ini bukan berarti kita terjebak dan kehilangan harapan. Kita dapat berefleksi dari perenungan ini, bahwa kita harus terus berjuang menjadi terang berkat, sekalipun harus menderita. Kekuatan dan penghiburan ini mestinya menjadi  penghayatan kita Di Minggu Sengsara Yesus Ke II ini, bahkan motivasi kehambaan kita sebagai pemimpin dan pelayan dalam keluarga demi masa depan cerah untuk keluarga kita, bahkan untuk sesama bangsa kita. Amin.

Pertanyaan Untuk Diskusi
1. Mencermati pembacaan Alkitab kita, kondisi apakah yang terjadi di kalangan bangsa Israel sehingga kehidupan mereka sepertinya gelap dan tanpa masa depan cerah?
2. Apa peran nabi Yesaya yang kemudian menunjuk kepada peran Yesus sebagai Mesias?
3. Bagaimana tindakan kita sebagai upaya menghayati Minggu Sengsara Yesus Ke II ini, sehingga kitapun dapat ”Menjadi Terang Sekalipun Menderita”?


Related

Renungan 6224916411104273022

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item