Renungan P/KB GMIM Pelita, 14 – 20 Februari 2016 (Minggu Sengsara I)

MENGALAMI SENGSARA UNTUK MENYELAMATKAN
Ayub 36 : 1 – 15

Sobat Pria/Kaum Bapa yang kekasih
Atas kasih dan anugerah Tuhan, kita diantar lagi dalam penghayatan minggu pertama sengsara Yesus Kristus. Kita menghayati Sengsara-Nya yang membawa keselamatan bagi manusia dan segenap ciptaan. Apa yang kita lakukan tentu saja bukanlah sekedar seremoni peribadatan melainkan suatu kerja iman yang memuliakan Dia. Kita terus diajak untuk melihat pada jalan penderitaan yang ditempuh-Nya sampai menuju salib yang berujung pada kematian-Nya yang agung. Ia melakukan semua itu sebagai wujud kesetiaan pada Allah Bapa yang memanggil-Nya dalam karya selamat yang akbar. Suatu karya penyelamatan yang tak dapat dibandingkan dengan bentuk pengorbanan apapun. Pengorbanan-Nya bukanlah pengorbanan untuk diri-Nya sendiri melainkan untuk kita. Demikianlah, karena sengsara dan penderitaan-Nya, selamatlah kita!
Sengsara yang dijalani Kristus mengundang rasa takjub kita akan kasih-Nya yang besar bagi dunia dan manusia. Penderitaan yang dialami-Nya bukan untuk penderitaan itu sendiri, tetapi penderitaan yang memiliki tujuan penyelamatan. Inilah yang menjadi inspirasi iman, sekaligus melahirkan pertanyaan refleksi di pihak manusia, bagaimana seharusnya kita hidup, bagaimana menjalani hidup supaya bermakna, baik di hadapan Tuhan maupun manusia. Penderitaan memang merupakan bagian hakiki dari manusia dan kehidupannya, namun apakah yang harus kita maknai dengan penderitaan kita belajar dari penderitaan Kristus?
Pada masanya, adalah Ayub yang menjadi contoh dari sebuah penderitaan hebat yang dialami oleh anak manusia. Kesaksian kitab Ayub menjelaskan perjalanan kehidupan Ayub yang sangat dekat dengan penderitaan. Saat menderita, para sahabat Ayub, Elifas, Bildad dan Sofar mendatanginya. Mereka menanggapi secara langsung keluhan Ayub atas penderitaannya. Ketiga sahabat Ayub datang dengan kemampuan hikmat mereka dan berusaha mendudukkan penderitaan Ayub menurut penilaian mereka. Apapun penyampaian Ayub, bagi mereka, Ayub dianggap telah melakukan kesalahan dan layak untuk mengalami penderitaan. Dalam hal ini Ayub mempertahankan ketidakbersalahannya di hadapan para sahabatnya. Tetapi di atas semua pengalaman iman yang dirasakan, Ayub tidak dapat menjelaskan arti semua penderitaan yang dialaminya.
Lalu datanglah Elihu, sahabatnya yang lain, yang berbicara dengan keyakinan tentang prinsip-prinsip ilahi yang perlu diperhatikan Ayub. Elihu meminta Ayub bersabar dan mendengarkan pendapatnya. Bahwa Allah diakui sebagai Pembuat atau Pencipta yang melaksanakan kehendak-Nya bagi siapapun. Allah adalah Dia yang perkasa, memiliki kekuatan dan kekuasaan, dan menjalankan kuasa-Nya berdasarkan kemurahan kasih karunia-Nya. Penekanan atas kasih karunia Allah ini, kurang disampaikan oleh ketiga sahabat Ayub lainnya. Selanjutnya Allah tidak membiarkan kefasikan seperti yang disangkakan dan tetap melaksanakan keadilan bagi orang benar. Ia memperhatikan langkah hidup orang benar dan menuntun mereka pada kehormatan yang tinggi.
Jika kemudian mereka terbelenggu dalam kesengsaraan dan mau belajar dari kesalahan yang diperbuat, merekapun akan menerima ganjaran kemujuran dan kesenangan sampai akhirnya. Sebaliknya sikap keras kepala, tidak mau ditegur, tidak mau belajar dari pelanggaran, menyimpan kemarahan akan mengalami kebinasaan, juga yang tidak mau berteriak minta tolong kepada Tuhan ketika dibelenggu-Nya, akan menerima kebinasaan sebelum saatnya.

Pada bagian akhir dari ucapan-ucapannya, Elihu berkata: “Dengan sengsara Ia menyelamatkan orang sengsara, dengan penindasan Ia membuka telinga mereka” (Ayub 36:15). Suatu ungkapan hikmat yang mengajak manusia supaya mau belajar dari kesengsaraan yang dialami, serta berani melangkah dalam perubahan perilaku yang dikehendaki-Nya, di bawah tuntunan kasih karunia Allah, sumber hikmat. Benarlah firman ini: “Sesungguhnya, Allah itu mulia di dalam kekuasaan-Nya; siapakah guru seperti Dia?” (Ayub 36:22).
Sobat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan mengasihi Tuhan,
Tidak ada seorangpun dari kita yang tidak pernah mengalami penderitaan, bukan? Bentuk dan tingkat penderitaan bisa berbeda, tetapi kita semua pernah mengalaminya. Begitulah, penderitaan, merasakan sengsara, hidup di tengah kesulitan dan persoalan, menyadarkan kita tentang siapakah kita di hadapan Tuhan dan sesama manusia. Kita memang tidak lepas dari keterbatasan dan kelemahan dasariah secara jasmani maupun rohani, yang sering membawa kita pada derita dan sengsara. Namun justru dari keadaan itulah kita diingatkan untuk tidak congkak, tidak mengandalkan diri, apalagi bersikap bebal.
Dalam peringatan minggu pertama Sengsara Yesus Kristus, kita diminta untuk terus berserah diri kepada-Nya tanpa syarat. Ia sudah membuka jalan yang baru bagi kita untuk memasuki Kerajaan Allah sebagai hamba-Nya yang mau belajar dari penderitaan-Nya. Sebab di dalam sengsara-Nya, ada karya keselamatan.
Keluhan-keluhan kita selaku suami, atau selaku orang tua di tengah keluarga, menandakan adanya penderitaan yang disebabkan oleh beban tanggungjawab yang harus kita pikul. Itulah peran kita bagi keluarga, dalam mencari nafkah, mengusahakan kehidupan melalui tugas, kerja, profesi. Dan itu pula  salib kehidupan, di mana setiap kita memiliki tanggungannya masing-masing. Walaupun begitu, ada bentuk salib berupa penderitaan yang tidak kita harapkan, bahkan masih terus kita gumuli di dalam doa: Apakah arti semuanya ini? Entah itu kesulitan ekonomi berkepanjangan, sakit penyakit, dll. Terkadang kita belum menerima jawaban doa, tapi kita percaya, Dia tetap bekerja dalam rancangan-Nya yang agung dan mulia, dan mengaruniakan kasih karunia yang perlu bagi kita.
Mari menghayati masa sengsara ini sambil belajar sesuatu dari dalamnya. Pastilah di sana ada makna selamat dan berkat, termasuk panggilan untuk bertobat dan merubah diri. Roh Kudus mengaruniakan kita hikmat. Amin.

Pertanyaan untuk PA:
1.      Melalui ucapan-ucapan Elihu dalam Ayub 36:1-15, apa makna penderitaan yang dapat kita petik?
2.      Jelaskan sikap dan reaksi yang biasanya timbul saat mengalami kesengsaraan dan penderitaan, dan bagaimana seharusnya menanggapi kesengsaraan dengan sikap kristiani supaya di dalamnya membawa keselamatan?

Related

Renungan 6528973182679737493

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item