Renungan Pelita P/KB GMIM, 28 Februari – 5 Maret 2016 (Minggu Sengsara III)

TABAH DI TENGAH PENDERITAAN DAN KEMISKINAN
Wahyu 2 : 8 - 11

Saudara-saudaraku Pria/Kaum Bapa GMIM yang dikasihi Tuhan.
Pada zaman Kitab Wahyu, kota Smirna terkenal sebagai kota yang penduduknya memiliki kesetiaan yang sangat fanatik terhadap kaisar Roma. Seorang pujangga Romawi bernama Cicero mengungkapkan, “Smirna adalah sekutu Roma yang paling setia dan paling lama.” Di kota ini, kultus pemujaan terhadap kaisar begitu kental untuk menunjukkan kesetiaan warga kepada sang kaisar sebagai penguasa. Sementara, jemaat Kristen di Smirna dikenal sudah mempunyai pemimpin sendiri sejak abad kedua, seorang pemimpin gereja terkenal di masa itu, ialah Polycarpus.
Kepada jemaat Smirna melalui rasul-Nya, Yesus memperkenalkan diri sebagai Yang Awal dan Yang Akhir. Artinya, Yesus menyatakan diri sebagai, “Akulah yang memulai dan Akulah yang akan mengakhiri.” Ayat itu berarti pula: Akulah yang mendirikan kamu, hai jemaat Smirna, karena itu apa pun yang terjadi, apa pun yang kamu alami sekarang ini, jangan membuatmu menjadi takut karena jika Aku yang memulainya, Aku pula yang akan mengakhirinya. Bukan dunia ini. Bukan pula kaisar Roma yang dianggap sebagai dewa/penguasa. Bukan juga kekuatan-kekuatan raksasa dan militer yang perkasa sekarang ini.
Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai “yang telah mati dan hidup kembali”. Ketika mati di kayu salib, Yesus kelihatannya kalah, lemah, menyerah, dan tidak mempunyai harapan lagi. Namun, Yesus hidup kembali. Artinya, Yesus menang pada akhirnya. Sebab itu jemaat Smirna yang kelihatannya lemah, kalah, menderita dan tidak mempunyai harapan, tidak boleh merasa takut atau sudah tamat, sebab Tuhan Yesus pun demikian. Ia telah mati dan telah hidup kembali.
Saudara-saudaraku yang diberkati Tuhan.
Di ayat 9 tertulis “Aku tahu”. Jika ungkapan ini diulang-ulang, apa artinya? Artinya, Yesus tahu segala-galanya. Yesus memperhatikan dan mempedulikan jemaat Smirna dengan segala keberadaannya. Jemaat Smirna adalah jemaat yang susah dan miskin. Susah karena tekanan-tekanan dan penganiayaan yang mereka alami. Miskin dalam arti miskin secara material. Mereka menjadi dan dibuat menjadi miskin secara ekonomi karena tidak disukai oleh orang-orang yang setia kepada kaisar dan orang-orang penganut Yahudi yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Mesias. Mereka tidak dapat berbuat lebih untuk kesejahteraan hidup mereka karena hidup sebagai Kristen. Sebab itu ditulis: Aku tahu keadaanmu yang susah, miskin, tetapi engkau kaya. Kaya dalam iman. Jemaat Smirna memang miskin secara material dan jasmani, tetapi mereka kaya secara spiritual, rohani. Sekalipun mereka susah, dianggap kecil, tak berdaya, bahkan miskin secara duniawi, namun sebenarnya mereka kaya dan kuat di hadapan Allah. Karena itu, Yesus pun memuji ketekunan iman mereka.
Dalam ayat ini disebutkan bahwa jemaat Smirna juga mengalami fitnah dari orang-orang yang menyebut diri Yahudi. Hidup sebagai Kristen sangat dibenci. Jemaat Kristen dianggap sebagai penghujat dan penyesat ajaran Yahudi. Kelompok yang menyebut dirinya orang Yahudi bekerja sama dengan penguasa Romawi, yang juga membenci orang Kristen, berusaha untuk menangkap, menghukum dan menganiaya jemaat Kristen.
Yesus menyebut mereka sebagai jemaat Iblis. Sebab pekerjaan Iblis tidak lain untuk membinasakan, mencelakakan dan menyesatkan. Sekalipun mereka mengatakan dan meyakini bahwa apa yang mereka lakukan untuk tujuan yang suci, yaitu menegakkan ajaran yang mereka anggap murni, namun sesungguhnya yang mereka lakukan adalah: menghasut, memfitnah, bahkan membunuh dengan tujuan mencelakakan dan menghancurkan apa yang mereka tidak sukai. Hal-hal seperti ini, jelaslah bukan prinsip hidup sebagai umat Allah dan hidup kekristenan. Kehidupan di dalam Allah adalah mengasihi dan mengampuni; meluruskan; membarui untuk kebenaran, kebaikan dan damai sejahtera.
Kita tahu rasul Paulus pernah berkata pula: “Sebab yang disebut Yahudi bukanlah orang yang lahiriah Yahudi, dan yang disebut sunat, bukanlah sunat yang dilangsungkan secara lahiriah. Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Roma 2:28-29).
Saudara-saudaraku Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan.
            Berkaitan dengan perkataan di ayat 10, kita ingat Yesus pernah mengatakan, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Matius 10:28).
            Janganlah kita menjadi orang Kristen hanya karena ingin bebas dari penderitaan atau hanya karena ingin sukses dalam segala hal. Tidak boleh! Pendeta dan Teolog Eka Darmaputera mengatakan jika ini yang dijadikan alasan dan tujuan menjadi Kristen, maka tidaklah perlu kita mengabarkan Injil karena pasti semua orang akan mau masuk Kristen. Jika dengan menjadi Kristen kita mendapat jaminan tidak akan sakit, sekolah tidak usah belajar pasti lulus, buka usaha pasti untung, maka akan membludak orang yang menjadi Kristen. Berhati-hatilah jika ada orang yang menjanjikan seperti itu. Semua itu omong kosong. Tuhan hanya menjanjikan ini: Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!
Sebab itu hendaklah kita selaku pribadi-pribadi Pria/Kaum Bapa GMIM senantiasa setia sampai mati di dalam kasih, iman dan pengharapan yang teguh kepada Tuhan karena Dia akan mengaruniakan kepada kita mahkota kehidupan. Orang Kristen yang sungguh-sungguh hidup meneladani Yesus Kristus dalam kasih, iman dan pengharapan tidak akan menderita menderita dan mati selama-lamanya. Memang manusia akan mengalami kematian yang pertama, meninggal secara badani. Namun, tidak akan menderita kematian yang kedua; melainkan masuk ke dalam kehidupan yang kekal. Amin

Pertanyaan untuk PA:
1.      Apa pemahaman kita tentang hidup tabah di tengah penderitaan dan kemiskinan menurut bagian Alkitab ini?
2.      Apa yang membuat warga gereja atau orang Kristen seringkali tidak tabah dan mencari ‘jalan pintas’ ketika menghadapi rupa-rupa pergumulan seperti sakit-penyakit, masalah ekonomi, dll?
3.      Bagaimana sikap Pria Kaum Bapa ketika menghadapi persoalan ekonomi dalam keluarga, jemaat dan masyarakat, termasuk bentuk-bentuk diskriminasi di sekitar kita?

Related

Renungan 674998338263288638

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item