Renungan P/KB GMIM, Pelita 31 Januari - 6 Februari 2016

BERHAK ATAS KESELAMATAN MENURUT KEKAYAAN KEMULIAAN-NYA

Hosea 1 : 10 – 12 ; Roma 9 : 14 – 26

Saudara-saudaraku Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan.
Tema keselamatan merupakan salah satu isu utama dan menempati kedudukan sentral dalam teologi Kristen. Teologi tentang keselamatan (Soteriology) yaitu bagaimana keselamatan dapat dicapai dan apa saja yang mempengaruhi keselamatan tersebut serta hasilnya. Keselamatan juga disebut sebagai “pelepasan” atau “penebusan” dari dosa dan pengaruh dosa, yang tujuannya dibawa dalam sebuah bingkai “pemulihan” dan “pengudusan” kembali. Atas dasar inilah, maka semua umat Tuhan berhak atas keselamatan itu.  Hal ini juga digaungkan sejak masa lampau seperti janji Tuhan kepada Abraham, Ishak dan Yakub yang kemudian mengarah pada pribadi Yesus Kristus sebagai Mesias Sang Juruselamat.
Saudaraku yang diberkati oleh Tuhan.
Tuhan Allah kita adalah Allah yang sangat sabar dan luar biasa kasih-Nya bagi umat ciptaan-Nya! Berdasarkan kesaksian Alkitab, Allah tidak pernah memperhitungkan perbuatan dosa manusia sekalipun umat pilihan-Nya telah banyak kali mengalihkan pandangan dari hadapan Tuhan. Hukuman dijatuhkan terhadap umat-Nya, tetapi berkali-kali Allah sendiri memberi kesempatan kembali dan hidup layak sebagaimana yang diharapkan oleh Tuhan Allah. Hal ini juga yang digaungkan oleh Hosea ketika tampil menjadi pemimpin bagi bangsanya. Hosea berada dalam sebuah masa di mana bangsa Israel sedang mengalami kekacauan akibat tidak mengandalkan Tuhan. Kemerosotan spiritual (rohani dan moral) yang semakin memburuk menjadi penyebab kejatuhan Israel. Hosea melihat bagaimana bangsa Israel dikalahkan dan dibuang setelah penyerangan bangsa Asyur. Semua terjadi akibat dosa dan pemborontakan dari umat sendiri! Hosea memandang bahwa dosa itulah yang menyebabkan Israel akan jatuh ke dalam pembuangan. Hal ini terkait dengan makna dari nama-nama anak Hosea yaitu “Yisreel” menunjuk pada hukuman atas Israel, “Lo-Ruhama” yang berarti Allah tidak mengasihani dan  “Lo-Ami” yang berarti sebuah penyangkalan terhadap  Israel sebagai umat Allah.
Penghukuman merupakan tindakan Allah, dan setiap tindakan Allah selalu mempunyai maksud yaitu pengajaran, penebusan atau pemulihan.  Di sini Hosea menekankan Allah yang hidup dan yang menjamin kehidupan umat-Nya, pernah mengadakan ikatan perjanjian dengan para leluhur Israel sehingga “janji tentang keselamatan” dibawa dalam tugas utama Hosea bagi bangsanya. Keselamatan yang dimaksud adalah berdasarkan inisiatif atau kehendak Allah, mempersatukan semua umat Israel dan mengangkat satu pemimpin (yang merujuk pada Mesias) dan memberkati mereka menjadi bangsa yang besar, yang tidak dapat ditakar dan tidak dapat dihitung. Ia mengembalikan kondisi umat pilihan Allah pada status semula, sebagaimana yang ditandai pada perubahan nama dari anak-anak Hosea “Ruhama”: Allah mengasihani dan “Ami” : Allah memihak kepada umat Israel”. Inilah keselamatan yang dijanjikan Allah bagi mereka!
Saudara-saudara P/KB yang Tuhan Yesus kasihi.
Keselamatan selalu menjadi otoritas penuh dari Allah sebagai pemilik keselamatan tersebut! Pada pembacaan kedua (Roma 9:14-26). Di sini Paulus dengan jelas memaparkan sesungguhnya jika manusia itu diadili berdasarkan perbuatannya, tidak ada yang layak dan berhak atas keselamatan itu. Tetapi ketika Allah berfirman terhadap umat pilihannya sebagai tindakan keselamatan, Allah tidak bergantung dan tidak memandang pada perbuatan atau usaha manusia. Allah selalu adil terhadap keputusan-Nya (dan tidak bisa diganggu-gugat). Kewibawaan Allah sangat jelas. Otoritas hak mutlak benar-benar berdasarkan keputusan Allah. Inilah yang dibuktikan oleh Tuhan Allah, ketika tindakan pembebasan Israel dari kekerasan Firaun, di mana Allah sendiri yang mengeraskan hati Firaun untuk menjelaskan bahwa semua tindakan-Nya bukan sesuatu yang dimudahkan, melainkan membutuhkan pengorbanan dan perhatian hanya kepada Allah. Sifat pengasihan Allah benar-benar ditunjukkan kepada Musa, sebagai pribadi yang berbelas-kasihan dan yang memiliki kemurahan hati (Bahasa Yunani: eleos).
Yesus Kristus adalah figur yang dijanjikan oleh Allah sebagaimana yang dinubuatkan oleh para Nabi, bahwa di dalam Dia-lah, keselamatan itu dinyatakan sebagai tindakan nyata sekali untuk selama-lamanya. Dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketabahan untuk memberi hasil yang terbaik dan tidak berubah-ubah sesuai dengan sifat Ilahi dari Allah sendiri.
Keselamatan pun ditujukan bukan semata-mata hanya kepada orang Yahudi, melainkan kepada semua bangsa atau keselamatan yang universal. Dilakukan karena kasih Allah yang tidak pernah ingkar terhadap janji-janji-Nya. Inilah kekayaan kemuliaan yang nampak sangat jelas dari Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat. Oleh karenanya, jangan pernah untuk terlalu berbangga hati (memegahkan diri) atas pribadi kita, sekalipun menjadi pemimpin dalam keluarga, tetapi kita harus berbangga memiliki Allah yang sangat peduli dan selalu menyiapkan segala sesuatu untuk dinikmati dan dijalani, sebagaimana kita mampu melewati bulan pertama di tahun yang baru ini.
Ketika melangkah di bulan yang baru Februari ini dalam tahun rahmat Tuhan, sebagai Pria Kaum Bapa kita harus peka melihat bahwa keselamatan yang diberikan Tuhan adalah tindakan kasih karunia Allah yang selalu berpengapa melingkupi kehidupan kita di segala bidang; baik keluarga, pekerjaan, dan berbagai aktivitas lainnya,  yang dilihat sebagai bentuk pelayanan untuk kemuliaan nama Tuhan. Amin
Pertanyaan untuk Diskusi:
1.      Menurut anda apakah keselamatan itu?
2.      Berdasarkan pengalaman saudara, pernahkah Allah mengingkari janji-Nya dalam harapan hidupmu?
3.      Selaku Pria/Kaum Bapa, apa yang harus kita buat untuk mempertahankan keselamatan yang berasal dari Tuhan Allah?

Related

Renungan 6750972457101079771

Posting Komentar

  1. Kenapa tdk update renungannya, mau minta uang lagi kpd warga GMIM untuk operasional, bukannya membantu para pelayan utk dpt memberitakan Firman...coba bpk2 turun ke bwh buat penelitian sdh byk warga GMIM muak dgn keberadaan saudara2 yang ada di Sinode GMIM yg tdk pernah transparan dgn keuangan, kapan sinode GMIM berkontribusi bagi Gereja, sedangkan setiap acara Sinodal selalu dibebankan ke jemaat selain hanya kemewahan yang yg dinikmati oleh pejabat sinode....

    BalasHapus

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item