Renungan Pelita P/KB GMIM, 24 – 30 Januari 2016

MENOLONG ORANG MISKIN ADALAH PANGGILAN IMAN

Imamat 19 : 9 – 10 ;  Roma 15 : 25 – 29

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, Pernahkah anda merenungkan hidup yang serba kekurangan? Untuk menyediakan makanan bagi diri sendiri, isteri dan anak-anak, anda harus berusaha keras. Yang anda pikirkan hanyalah bagaimana caranya untuk terus hidup, bagaimana untuk bisa makan. Jika sudah dalam keadaan susah untuk kebutuhan hidup sehari-hari, maka bisa saja hal pendidikan anak-anak dan masa depan mereka sudah tidak lagi menjadi prioritas. Orang akan berkata, asal tidak mati kelaparan, hidup sudah sangat beruntung. Itulah gambaran hidup orang miskin, orang yang serba kekurangan, orang yang tidak punya harta, yang berpenghasilan sangat rendah, malahan terkadang tidak cukup untuk menjamin kebutuhan makan dan minum sekeluarga.
Tidak ada yang mau menjadi orang miskin bukan? Tetapi realitanya memang selalu ada orang miskin di tengah-tengah masyarakat kita. Dan tahukah kita bahwa Tuhan memanggil kita, umat pilihan-Nya untuk menjadi penolong bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan? Ya, benar. Tuhan memanggil kita untuk menjadi penolong bagi orang miskin. Hal itu diperintahkan Tuhan dengan sangat jelas lewat kesaksian Alkitab, di antaranya adalah firman Tuhan yang kita dengar dan renungkan di sepanjang minggu yang berjalan ini.
Imamat 19:9-10 mengurai perintah Tuhan kepada umat-Nya untuk memperhatikan kebutuhan orang miskin. Tuhan mengatur bagaimana cara mereka menuai hasil tanahnya:
1). Janganlah kau sabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya
2). Janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penuaianmu
3). Sisa-sisa buah anggurmu janganlah kau petik untuk kedua kalinya
4). Buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kau pungut.
Mari kita renungkan ini sebelum menuai hasil, umat Tuhan tentu harus bekerja dan mengusahakan tanahnya bukan?  Mereka menanam, menyiram, membersihkan ladang dan kebun mereka. Mereka juga pasti mengalami kelelahan karena mereka menggunakan tenaga dan waktu mereka. Tetapi pada saat menuai hasil, mereka diperintahkan untuk mengingat kebutuhan orang miskin dengan cara menuai atau memanen.
Saudara-saudaraku Pria/Kaum Bapa yang kekasih dalam Tuhan.
Sama seperti kita. Bapak-bapak, kepala keluarga, pencari nafkah. Tugas kita adalah bekerja. Dalam bekerja, kita menggunakan tenaga dan pikiran kita. Bukankah itu melelahkan badan? Belum lagi soal waktu, kita bekerja dari pagi sampai sore bahkan kadang sampai malam hari. Kadang kita merasa waktu tidak cukup lagi untuk keluarga. Tetapi, tanggal gajian selalu kita tunggu, atau masa panen selalu kita nantikan. Karena saat itulah kita menuai hasil, Kita menikmati buah dari kerja keras kita, tetapi di saat yang bersamaan, Tuhan pun memerintahkan kita untuk mengingat dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin yang ada di sekitar kita.
Perintah itulah yang dijalankan Paulus sebagaimana diceritakan dalam Roma 15:25-29. Paulus dalam perjalanannya ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus di sana. Paulus memberi tahu jemaat di Roma bahwa Makedonia dan Akhaya (bangsa-bangsa bukan Yahudi) telah mengambil keputusan untuk membantu orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Dan hal ini dianggap sebagai kewajiban bangsa-bangsa lain yang telah mendapat kasih karunia keselamatan seperti bangsa Yahudi. Paulus senantiasa mengingat perintah Tuhan bagi umat-Nya untuk memperhatikan kebutuhan orang-orang miskin.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Menolong orang miskin adalah panggilan iman. Tindakan yang menyatakan iman kita kepada Tuhan yang kita sembah. Sebab bagi Tuhan, percuma semua ibadah dan kegiatan gerejawi kita, jika kita tidak memiliki kasih kepada sesama. Kasih yang dibuktikan dengan tindakan nyata, dan bukan sekedar pengakuan di mulut saja. Sama seperti Tuhan mengalirkan kasih-Nya yang berlimpah bagi kita, kita pun dituntut mengalirkan kasih dan keadilan kepada sesama kita terutama kepada mereka yang hidup dalam kekurangan.
Tidak mudah untuk memenuhi panggilan iman ini. Mari kita jujur pada diri sendiri, sudahkan kita menyisihkan dan mengatur gaji atau uang hasil panen sedemikian rupa untuk diberikan kepada orang miskin secara konsisten? Kadang kala, kita lalai atau malah tidak peduli dengan orang yang hidup serba kekurangan yang ada di sekitar kita. Tetapi ingatlah akan hal ini, bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk menolong orang miskin, dan tindakan menolong adalah untuk kebaikan kita juga.
Dalam Ulangan 24:19b, dikatakan – supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu. Itulah janji Tuhan. Janji yang selalu Dia tepati. Tuhanlah yang menjadikan kita hidup sejahtera dan berkecukupan. Tuhan jugalah yang menjadikan kita bisa bekerja, mengelola bisnis dan mengusahakan tanah kita. Tuhan jugalah yang memberkati kita dengan kekuatan dan kesehatan. Tanpa Tuhan sia-sialah segala kerja keras dan usaha kita. Jika kita diberkati sedemikian rupa oleh Pencipta kita, mengapa kita tidak mau menjadi berkat bagi sesama kita terutama bagi orang-orang miskin di sekitar kita? Amin.

Pertanyaan untuk PA:
1.Apa saja kategori orang miskin di zaman sekarang ini? Berikan contoh kehidupan orang-orang yang masuk kategori miskin di dalam masyarakat  atau di sekitar kita?
2.Apa yang sering menjadi hambatan untuk memberi bagi orang miskin?
3.Bagaimana bentuk keadilan kita untuk berbagi dengan orang miskin?

Related

Renungan 5777506116277992764

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item