Pelita, 3 – 9 Januari 2016

TUHAN MENOLONG ORANG SENGSARA DAN MISKIN
Mazmur  40 : 17 – 18 ; Lukas 4 : 16 – 19
Saudara-saudara Pria/Kaum Bapa yang kekasih di dalam Kristus.
Mazmur berarti “puji-pujian”,  Mazmur berasal dari bahasa Yunani yang berarti lagu yang dinyanyikan dengan iringan instrumen musik yang dipetik. Mazmur dalam bahasa Ibrani berarti lagu-lagu pujian. Mazmur mengangkat pengalaman dan emosi manusia. Seperti ketakutan melawan kepercayaan, amarah melawan kepercayaan, amarah melawan belas kasihan, kesusahan melawan sukacita, Mazmur berisi doa dan pujian kepada Allah. Mazmur 40, adalah salah satu bagian pengalaman iman yang diangkat pemazmur tentang emosi manusia dalam hal amarah melawan kepercayaan, kesusahan melawan sukacita.
Mazmur 40 menempatkan pemazmur pada 2 keadaan hidup yang agak berbeda. Di satu sisi (ayat 17), ia tergambar sebagai pribadi yang bersukacita dan bergembira, yang bersaksi sebagai orang yang memiliki keselamatan Allah dan mengakui Tuhan itu besar. Namun di sisi lain (ayat 18), pemazmur tergambarkan sebagai orang yang sengsara dan miskin, yang membutuhkan pertolongan dan keluputan dari Allah. Bahkan pemazmur tergambar sebagai pribadi yang berada pada keadaan yang sangat berbahaya. Walaupun pemazmur berada pada dua situasi yang berbeda, namun Tuhan selalu menjadi pusat pertolongannya.
Saudara-saudaraku.
Injil Lukas juga berbicara tentang pertolongan Tuhan yang dinubuatkan sejak zaman nabi Yesaya sampai zaman Yesus Kristus. Pembebasan, keselamatan menjadi tema sentral pemberitaan nabi Yesaya. Hal ini kembali diangkat oleh penginjil Lukas sebagai suatu hal yang utama dalam pengajaran Tuhan Yesus Kristus. Pembebasan bagi orang yang tertawan, orang yang buta, orang tertindas adalah sesuatu yang harus dilakukan.  Pengharapan kedatangan tahun rahmat Tuhan diyakini sebagai masa yang sangat dinantikan terjadi di waktu itu. Karena di masa itu, ada begitu banyak orang yang susah, miskin, sengsara, terbelenggu dan juga tertawan. Kekejaman bangsa Romawi terhadap orang Kristen menjadi situasi yang betul-betul membutuhkan pertolongan Tuhan. Namun kekuatan kuasa Tuhan diyakini akan sanggup menghadapi kekejaman bangsa Romawi, bahkan mengubah keadaan hidup orang-orang percaya yang menderita di waktu itu.
Saudara-saudara Pria Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan
Menjadi pertanyaan bagi kita,  apakah tema pembebasan, kebebasan  masih menjadi tema untuk diperjuangkan gereja abad ini? Banyak yang telah mengatakan bahwa kita telah berada di era demokrasi, era di mana kita telah diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat dan pikiran kita. Hal itu memang benar, tapi hal itu masih belum menjamin kebebasan yang sebenarnya. Kenapa? Karena di era demokrasi ini justru kita masih melihat  ada begitu banyak orang yang terpasung hak-hak hidupnya karena masih adanya perlakuan ketidak-adilan, ketidak-benaran di berbagai bidang. Bidang keamanan, kita masih dapati bagaimana gereja dibakar dan dibongkar oleh oknum tertentu, kelompok masyarakat serta aparat. Di bidang ekonomi masih didapati kepincangan pembangunan antara Barat dan Timur, antar pusat dan daerah, padahal kita sudah berada di  era swasembada pangan nasional tapi masih saja terdapat daerah-daerah yang miskin, susah dan kelaparan.
Di bidang hukum, masih saja kita dapati perlakuan hukum yang tidak seimbang terhadap para koruptor dengan rakyat jelata. Hukum kita masih bersifat tajam ke bawah, namun tumpul ke atas, dan masih ada hukum yang tebang pilih. Di bidang sosial kemasyarakatan, angka pengangguran bukannya semakin berkurang, malah kenyataannya justru semakin bertambah, yang akhirnya berdampak pada angka kemiskinan dan bertambah tiap tahunnya.
Pria Kaum Bapa yang diberkati Tuhan.
Pembebasan dan kebebasan ternyata diharapkan terjadi di bangsa ini secara nasional, tapi  juga harus terjadi di  dalam persekutuan gereja masa kini. Kenapa? Karena masih didapati di kota-kota, gereja-gereja berlomba membuat bangunan yang sangat  megah dengan anggaran milyaran rupiah. Sedangkan di daerah terpencil, di kepulauan atau daerah yang minus, ada gereja yang sudah bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun bangunannya belum juga selesai. Di kota-kota, para pelayan khusus boleh bergembira dengan memiliki fasilitas gereja yang mewah, sedangkan di daerah terpencil: para Pendeta, Guru Agama tengah berusaha bertahan hidup di tengah fasilitas gereja yang kurang. Tunjangan pekerja gereja yang kurang, bahkan pas-pasan berdampak pada ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi, kita dapati di sekitar kita, masih banyak warga gereja yang susah, sengsara, yang masih kurang mendapat perhatian gereja.
Ada juga para tuna netra, kaum jompo, anak-anak di panti asuhan, serta anak yatim piatu yang masih belum menjadi perhatian utama gereja. Gereja memiliki berjuta-juta uang kas, tapi ironisnya warga jemaatnya ketika sakit tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Di bidang pendidikan,  masih ada begitu banyak sekolah GMIM yang gedung sekolahnya rusak karena kekurangan dana perbaikan, bahkan sekolah mulai kehilangan murid dan nyaris tutup karena kekurangan guru sekolah.
Pria Kaum Bapa yang diberkati Tuhan.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa pembebasan itu harus lebih kita nyatakan, bukan hanya program gereja semata, tapi juga harus menjadi bagian hidup yang mengubah hidup kita. Sebab pembebasan di sini jangan hanya ditujukan bagi mereka yang susah, sengsara secara fisik, tapi juga pembebasan harus berlaku pada semua orang, mulai dari cara berpikir dan bertindak sampai pada cara pandang pelayanan gereja masa kini. Pembebasan yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus adalah pembebasan secara holistik yaitu pembebasan mulai dari diri warga gereja itu sendiri sampai pada tindakan warga gereja, dan hal itu juga harus dimulai dari Pria/Kaum Bapa itu sendiri.
 Pria  kaum bapa juga harus belajar membebaskan diri  dari cara berpikir “lebih mengistimewakan diri sebagai laki-laki” yang berujung pada sikap hidup yang otoriter, diktator, kejam, arogan terhadap istri dan anak-anak. Gereja juga harus dibebaskan dari cara pandang yang materialistis (terlalu mementingkan materi). Cara pandang itu telah banyak merusak pelayanan gereja yang sesungguhnya. Kita harus lebih peka mendengar jeritan-jeritan orang yang susah, miskin dan menderita, dan gereja juga harus lebih aktif lagi memberikan pertolongan. Sebab demikianlah seharusnya kita meneladani teladan hidup Tuhan kita, Yesus Kristus.  Amin.

Pertanyaan untuk PA:
1.      Sebutkan dan jelaskan bagaimana Tuhan menolong orang sengsara dan miskin sesuai bacaan ini?
2.      Berikanlah contoh program atau upaya-upaya Gereja (termasuk Pria Kaum Bapa) sebagai usul solusi yang masuk akal untuk menolong orang-orang yang miskin, dan sebagainya

Related

Renungan 6592481574570498257

Posting Komentar

emo-but-icon

Renungan

Undangan

Undangan

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Berlangganan Artikel Kami

Masukkan alamat email:

Tertarik Beriklan? Kami Sediakan Di sini...

Mau Beriklan??? Hubungi???...0811438088/085256409555/08124301190
item